Assessment Online
TES INTELEKTUAL (TES INTELIGENSI)

Tes Intelektual atau lebih dikenal dengan tes Intelegensi adalah salah satu jenis tes yang paling pertama didesign dan berkembang dalam ilmu psikologi, sebagai sebuah design profile kepribadian. Di awal perkembangan ilmu psikologi, istilah Kepribadian bahkan selalu berasosiasi dengan istilah Intelektual/Inteligensi. Sehingga dengan berkembangannya ilmu psikologi, tes intelegensi juga berkembang dan mengalami perubahan mendasar (yang sebelumnya menggambarkan kepribadian/karakter), menjadi sebuah gambaran kemampuan (ability) seseorang. Perubahan paradigma tes Inteligensi ini dipengaruhi oleh beberapa teori besar seperti teori Alfred Binet, Teori Edward Lee Thorndike, Teori Inteligensi Vernon, Teori Inteligensi Charles Spearman, Teori Inteligensi L.L. Thurstone, Teori Inteligensi David Wechsler dan teori inteligensi ahli lainnya.

Secara umum, tes inteligensi dibagi menjadi 2 berdasarkan pendapat Spearman bahwa kecakapan intelektual terdiri dari dua macam. Korelasi “g” factor dan “s“ factor dalam performance, yaitu:

  1. General ability atau general faktor (“g” factor). Faktor ini terdapat pada semua individu, tetapi berbeda satu dengan yang lainnya (mendasari semua perilaku orang). Faktor ini selalu didapati dalam semua “performance”.
  2. Special ability atau special faktor ("s" factor). Faktor ini merupakan faktor yang khusus mengenai bidang tertentu (berfungsi pada perilaku-perilaku khusus saja). Dengan demikian, maka jumlah faktor ini banyak, misalnya ada S1, S2, S3, dan sebagainya sehingga kalau pada seseorang “s” factor dalam bidang tertentu dominan, maka orang itu akan menonjol dalam bidang tersebut.

Berikut macam-macam tes inteligensi yang sudah dikenal luas di masyarakat, dan paling sering digunakan dalam pengukuran intelgensi:

Tes IST (Intelligenz Struktur Test)

Intelligenz Struktur Test (IST) merupakan alat tes inteligensi yang telah diadaptasi di Indonesia. Tes ini dikembangkan oleh Rudolf Amthaeur di Frankfrurt Main Jerman pada tahun 1953. Intelligenz Struktur Test (IST) terdiri dari sembilan subtes antara lain: Satzerganzung (SE) yaitu melengkapi kalimat, Wortauswahl (WA) yaitu melengkapi kata-kata, Analogien (AN) yaitu persamaan kata, Gemeinsamkeiten (GE) yaitu sifat yang dimiliki bersama, Rechhenaufgaben (RA) yaitu kemampuan berhitung, Zahlenreihen (SR) yaitu deret angka, Figurenauswahl (FA) yaitu memilih bentuk, Wurfelaufgaben (WU) yaitu latihan balok, dan Merkaufgaben (ME) yaitu latihan simbol.

Tes IST terdiri dari sembilan sub tes terdiri dari 176 item soal. Waktu pengerjaan yang dibutuhkan dalam penyajian tes IST ini kurang lebih selama 90 menit dengan instruksi yang berbeda-beda pada setiap sub tesnya. Tes IST ini membutuhkan seorang tester yang memiliki keterampilan dalam menyajikan tes dan proses skoring serta interpretasi yang memakan waktu. Tes ini dapat dilakukan secara individual maupun klasikal (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Kumolohadi & Suseno (2012) menjelaskan bahwa melalui tes IST, dapat diperoleh skor inteligensi umum dan skor kemampuan khusus secara mendetail yang diungkap dengan sembilan sub tes dalam IST, di antaranya yaitu:

  1. Sub tes Satzerganzung (SE) mengungkap kemampuan berpikir kongkrit praktis, mengukur keinginan berprestasi, pengambilan keputusan, kemampuan memahami realitas, common sense, pembentukan pendapat/penilaian, dan kemandirian dalam berpikir.
  2. Sub tes Wortauswahl (WA) mengungkap kemampuan bahasa dengan menangkap inti kandungan makna dari sesuatu yang disampaikan, kemampuan empati serta kemampuan berpikir induktif dengan menggunakan bahasa.
  3. Sub tes Analogien (AN) mengungkap kemampuan berpikir secara fleksibilitas, kemampuan menghubung-hubungkan atau mengkombinasikan, resistensi, serta kemampuan untuk berubah dan berganti dalam berpikir.
  4. Sub tes Gemeinsamkeiten (GE) mengukur kemampuan memahami esensi pengertian suatu kata untuk kemudian dapat menemukan kesamaan esensial dari beberapa kata, serta mengukur kemampuan menemukan ciri-ciri khas yang terkandung pada dua objek dalam upaya menyusun suatu pengertian yang mencakup kekhasan dari dua objek tersebut.
  5. Sub tes Rechhenaufgaben (RA) mengukur kemampuan berpikir logis, kemampuan bernalar, memecahkan masalah praktis dengan berhitung, matematis, dan kemampuan berpikir runtut dalam mengambil keputusan.
  6. Sub tes Zahlenreihen (ZR) mengukur kemampuan berhitung dengan didasari pada pendekatan analisis atas informasi faktual yang berbentuk angka sehingga ditemukan suatu kesimpulan.
  7. Adanya kemampuan mengikuti komponen irama dalam berpikir. Sub tes Figurenauswahl (FA) mengungkap kemampuan membayangkan secara menyeluruh dengan cara dengan menggabung-gabungkan potongan suatu objek visual secara konstruktif sehingga menghasilkan suatu bentuk tertentu.
  8. Sub tes Wurfelaufgaben (WU) mengukur kemampuan analisis yang turut disertai dengan kemampuan membayangkan perubahan keadaan ruang secara antisipasif. Dalam kemampuan ini terdapat peran imajinasi, kreativitas, fleksibilitas berpikir dan kemampuan menyusun atau mengkonstruksi perubahan.
  9. Sub tes Merkaufgaben (ME) mengukur daya ingat seseorang yang di dalamnya terdiri dari kemampuan memperhatikan, kemampuan menyimpan atau mengingat dalam waktu lama.

IST adalah alat tes yang kompleks dan memiliki tingkat kesulitan pada tugas-tugas di setiap bagian yang tinggi. Meski begitu, melalui tes IST individu dapat mengetahui IQ total dan per bagian (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Tes CFIT (Culture Fair Intelligence Test)

Culture Fair Intelligence Test (CFIT) merupakan salah satu tes inteligensi yang sering digunakan oleh psikolog dan lembaga psikologi di Indonesia. Pertama kali Tes inteligensi CFIT ini dikembangkan oleh Raymond B. Cattell pada tahun 1940. Dalam proses administrasinya, Tes CFIT relatif tidak memakan waktu yaitu hanya sekitar 30 menit sehingga tes CFIT populer digunakan di kalangan praktisi (Suwandi, 2015).

Menurut Cattell (dalam Suwandi, 2015) inteligensi terbagi menjadi 2 komponen, yaitu fluid dan crystallized intelligence. Fluid intelligence merupakan kecerdasan yang berasal dari sifat bawaan lahir atau hereditas. Sedangkan crystallized intelligence adalah kecerdasan yang sudah dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya kecerdasan yang didapat melalui proses pembelajaran di sekolah. Tes cfit dikembangkan sebagai tes non verbal untuk mengukur fluid intelligence (Gf).

Tes CFIT memiliki tiga jenis skala, yaitu:

  1. Skala 1 ditujukan untuk usia 4 sampai 8 tahun
  2. Skala 2 ditujukan untuk usia 8 sampai 13 tahun
  3. skala 3 ditujukan untuk individu dengan kecerdasan di atas rata-rata dan Usia diatas 13 tahun

Di Indonesia tes CFIT yang berkembang dan beredar luas dan digunakan psikolog adalah skala:

  1. Skala 2A
  2. Skala 2B
  3. Skala 3A
  4. Skala 3B

Terdapat kemiripan antara skala 2 dan 3 tes CFIT, yang membedakan hanya tingkat kesukarannya. Suwandi (2015) menjelaskan bahwa skala ini terdiri dari empat subtes, yaitu:

  1. Series terdiri dari 13 item, peserta diinstruksikan untuk melanjutkan gambar secara logis dari 3 gambar yang telah disajikan sebelumnya
  2. Classification terdiri dari 14 item, peserta diinstruksikan untuk mencocokan 2 gambar dari setiap seri. Kemudian pada gambar yang cocok dipasangkan bersama
  3. Matrice terdiri dari 13 item, peserta diinstruksikan untuk menentukan mana dari 5 alternatif yang paling logis untuk melengkapi pola matriks yang telah disajikan.
  4. Topology terdiri dari 10 item, peserta diinstruksikan untuk mencari aturan umum dimana titik ditempatkan dengan menyimpulkan aturan dan memilih gambar yang berlaku

Tes SPM (Standard Progressive Matrices)

Standard Proggressive Matrices (SPM) adalah tes inteligensi yang dirancang oleh J.C Raven pada tahun 1936 serta diterbitkan pertama kali di tahun 1938. SPM yang dijumpai di Indonesia yaitu hasil revisi pada tahun 1960. Tes SPM mengukur kecerdasan orang dewasa. Tes ini mengungkapkan faktor general (G faktor) atau kemampuan umum seseorang. Tes SPM digunakan secara individual atau klasikal dan waktu penyajian yang dibutuhkan 25 menit (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Tes SPM memuat 60 soal yang di dalamnya terbagi menjadi lima seri yaitu seri A, B, C, D dan E. Setiap seri terdiri dari 12 soal yang berbentuk gambar-gambar. Setiap soal terdiri dari satu gambar besar yang tidak lengkap dan terdapat pilihan jawaban untuk melengkapi gambar tersebut. Dalam penyajian tesnya, set A dan B menyediakan enam gambar kecil sebagai pilihan, sedangkan untuk set C, D, dan E, disediakan delapan pilihan. Penyusunan soal bertingkat dari soal yang mudah ke soal yang sukar (Rahmadani, 2019).

Secara operasional, subjek diberi soal dan diminta memilih jawaban yang paling tepat serta ia dapat menuliskan jawabannya di lembar jawaban khusus yang telah disediakan. Didalam tes SPM terdapat soal seri A nomor 1 dan 2 sebagai contoh soal sehingga dalam pengerjaannya soal seri A nomor 1 dan 2 dikerjakan oleh subjek bersamaan dengan tester saat memberikan instruksi pengerjaan tes SPM. Subjek harus bekerja dengan cepat dan teliti pada saat tes dimulai sampai akhir tes (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Pemberian skor dengan memperoleh nilai 1 untuk aitem soal yang dijawab benar dan memberi nilai 0 untuk jawaban yang tidak benar. Soal seri A nomor 1 dan 2 hanya digunakan sebagai contoh dan harus dipastikan benar sehingga secara teoritis range nilai akan bergerak dari 2 sampai dengan 60. Skor total adalah jumlah jawaban benar yang dapat dikerjakan oleh subjek yang kemudian akan diinterpretasikan secara normatif menurut norma penilaian tes SPM (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Raven (dalam Kumolohadi & Suseno, 2012) menjelaskan bahwa tes SPM tidak memberikan skor berupa suatu angka IQ seseorang, melainkan dengan tingkatan (grade) inteligensi menurut besarnya skor total dan usia subjek. Tingkat inteligensi subjek dikelompokkan berdasarkan atas nilai persentil sebagai berikut:

  1. Grade I yaitu Intellectually superior ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai persentil 95 ke atas.
  2. Grade II yaitu Difenitelly above the avarage in intellectual capacity ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai terletak diantara persentil 75 sampai dengan persentil 95.
  3. Grade III yaitu Intellectually avarage ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai terletak diantara persentil 25 sampai dengan 75.
  4. Grade IV yaitu Difenitelly below the avarage in intellectual capacity ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai terletak diantara persentil 5 sampai dengan persentil 25.
  5. Grade V yaitu Intellectually defective ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai yang terletak pada dan di bawah persentil 5.
SPM adalah alat tes yang lebih sederhana dan tugas yang diberikan juga lebih mudah. Namun melalui SPM, seseorang hanya dapat mengetahui kategorisasi atau tingkatan (grade) rata-rata dari inteligensinya (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Tes WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale)

Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) dikembangkan oleh David Wechsler. Akibat rasa ketidakpuasan dengan batasan dari teori Stanford-Binet dalam penggunaannya, khususnya dalam pengukuran kecerdasan untuk orang dewasa sehingga dikembangkanlah tes ini. David Wechsler kemudian meluncurkan tes kecerdasan baru yang dikenal sebagai Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) pada 1955. Tes ini digunakan oleh orang dewasa usia 16-75 tahun atau lebih. Pelaksanaan tes ini dilakukan secara individu (Maarif et al., 2017). WAIS menjadi alat tes yang paling populer karena paling banyak digunakan di dunia saat ini. Tes ini semula bernama Wechsler Bellevue Intellegence Scale (WBIS).

Pada tahun 1939, David Wechsler memperkenalkan versi pertama tes inteligensi yang dirancang khusus untuk digunakan bagi orang dewasa yang bernama Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (W-B) (Anastasi & Urbina, 1997). Sepuluh tahun kemudian, Wechsler menerbitkan skala inteligensi untuk anak-anak yang dikembangkan berdasar isi skala W-B. Skala ini diberi nama Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC). WISC terdiri dari dua sub bagian, yakni Verbal (V) dan Performance (P) (Anastasi & Urbina, 1997).

Pada tahun 1974, WISC direvisi dan diluncurkan dengan nama baru, yakni WISC-R (R adalah revised). Wechsler terus menyusun skala lain untuk orang dewasa dengan cara memperluas isi tes WISC sehingga lahirah Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) pada tahun 1955. Revisi terhadap WAIS sendiri telah dilakukan dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1981 dengan nama WAIS-R (Anastasi & Urbina, 1997).

Ada tiga macam skala Wechsler (Anastasi & Urbina, 1997):

  1. WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) di tahun 1949. Banyak soal diambil langsung dari tes orang dewasa. WISC third edition untuk usia 6-16 tahun 11 bulan.
  2. WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) di tahun 1955. Untuk usia 16-75 tahun.
  3. Wechsler Preeschool and Primary Scale of IntelligenceRevised tahun 1989. Tes ini untuk rentang usia 3-7 tahun 3 bulan.

Revisi skala WISC yang dinamai WISC-R diterbitkan tahun 1974 dan dimaksudkan untuk mengukur inteligensi anak-anak usia 6 sampai dengan 16 tahun. WISC-R terdiri atas 12 subtes yang dua diantaranya digunakan hanya sebagai persediaan apabila diperlukan penggantian subtes (Anastasi & Urbina, 1997; Cohen & Swedlik, 2005).

Tes WAIS terdiri dari dua Sub-bagian yakni Bentuk Verbal dan Bentuk Performance yang terbagi kedalam 11 subtes. Adapun sub-sub tes tersebut terdiri atas:

  1. Bentuk Verbal:
    1. Informasi
    2. Pemahaman
    3. Hitungan
    4. Persamaan
    5. Rantang Angka
    6. Perbendaharaan Kata
  2. Bentuk Performance:
    1. Simbol Angka
    2. Melengkapi Gambar
    3. Rancang Balok
    4. Mengatur Gambar
    5. RMerakit Objek

Tes Binet

Tes Binet Simon dipublikasikan pertama kali pada tahun 1905 di Paris-Prancis. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan mental seseorang. Inteligensi digambarkan oleh Alfred Binet sebagai sesuatu yang fungsional. Komponen dalam inteligensi sendiri terdiri dari tiga hal, yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Tes Binet yang digunakan di Indonesia saat ini adalah Stanford Binet Intelligence Scale Form L-M, di mana tes tersebut merupakan hasil revisi ketiga dari Terman dan Merril pada tahun 1960 (Nuraeni, 2012).

Tes Binet dengan skala Stanford–Binet berisi materi berupa sebuah kotak yang berisi berbagai macam mainan yang akan diperlihatkan pada anak-anak, dua buah buku kecil yang berisi cetakan kartu-kartu, sebuah buku catatan yang berfungsi untuk mencatat jawaban beserta skornya, dan sebuah petunjuk pelaksanaan dalam pemberian tes. Pengelompokkan tes-tes dalam skala Stanford–Binet dilakukan menurut berbagai level usia, dimulai dari usia 2 tahun sampai dengan usia dewasa. Meski begitu, dari masing-masing tes yang berisi soal-soal tersebut memiliki taraf kesukaran yang tidak jauh berbeda untuk setiap level usianya. Skala Stanford–Binet dikenakan secara individual dan pemberi tes memberikan soal-soalnya secara lisan. Meski begitu, skala ini tidak cocok untuk dikenakan pada orang dewasa, sekalipun terdapat level usia dewasa dalam tesnya. Hal ini karena level tersebut merupakan level intelektual dan hanya dimaksudkan sebagai batas-batas dalam usia mental yang mungkin dicapai oleh anak-anak. Skala Stanford-Binet versi terbaru diterbitkan pada tahun 1986. Konsep inteligensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran dalam revisi terakhir ini dan masing-masing diwakili oleh beberapa tes (Rohmah, 2011).

Tes TIKI (Intelegensi Kolektif Indonesia)

TIKI merupakan akronim dari Tes Intelegensi Kolektif Indonesia. Tes ini diciptakan berdasarkan kerja sama antara Indonesia dan Belanda. Tujuan dari dibuatnya tes ini adalah untuk melihat standar intelegensi di Indonesia serta membuat alat tes intelegensi yang berdasarkan norma Indonesia (Nuraeni, 2012).Tes ini secara keseluruhan dibagi menjadi tiga tes, TIKI Dasar, TIKI Menengah dan TIKI Tinggi.

  1. TIKI Dasar. TIKI Dasar merupakan tes intelegensi yang paling awal dari ketiga tes yang ada. Tes intelegensi ini diperuntukan untuk anak-anak yang ada pada tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama kelas dua. TIKI Dasar mengukur intelegensi dengan berhitung angka, penggabungan bagian, eksklusi gambar, hubungan kata, membandingkan beberapa gambar, labirin/maze, berhitung huruf, mencari pola, eksklusi kata dan terakhir mencari segitiga (Nuraeni, 2012).
  2. TIKI Menengah. TIKI Menengah merupakan alat tes intelegensi kedua dalam rangkai TIKI yang diperuntukkan untuk anak yang berada pada tingkat sekolah menengah pertama kelas tiga hingga sekolah menengah atas. Pada TIKI Menengah, peserta tes akan diminta untuk berhitung angka, penggabungan bagian, menghubungkan kata, eksklusi gambar, berhitung soal, meneliti, membentuk benda, eksklusi kata, bayangan cermin, berhitung huruf, membandingkan beberapa benda dan terakhir adalah pembentukan kata (Nuraeni, 2012).
  3. TIKI Tinggi. TIKI Tinggi menjadi ala tes intelegensi yang termasuk ke dalam rangkaian TIKI yang berada paling akhir dan memiliki tingkat kesusahan yang paling kompleks dalam TIKI. TIKI Tinggi sendiri diperuntukan bagi individu yang ada pada tingkat perguruan tinggi serta orang dewasa. Pada TIKI Tinggi, peserta tes akan diminta untuk berhitung angka, penggabungan bagian, menghubungkan kata, abstraksi non verbal, deret angka, meneliti, membentuk benda, eksklusi kata, bayangan cermin, menganalogi kata, bentuk tersembunyi dan terakhir adalah pembentukan kata (Nuraeni, 2012).

Tes WPT (Wonderlic Personnel Test)

Wonderlic Personnel Test (WPT) adalah tes kemampuan kecerdasan yang dikembangkan oleh Eldon F. Wonderlic, seorang mahasiswa pasca sarjana di Universitas Northwestern pada tahun 1937. WPT yang dikembangkan oleh Wonderlic merupakan tes kemampuan kecerdasan berukuran singkat yang pertama di dunia dan dalam perkembangannya tes ini dipergunakan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat untuk pemilihan dan pelatihan pilot selama Perang Dunia II (Chamorro-Premuzic, Dissou, Furnham, & Bales, 2010).

Wonderlic mengembangkan WPT dalam lima jenis format, yaitu A, B, D, E, dan F, dimana masing-masing terdiri dari 50 aitem soal tes dan diujikan selama 12 menit. Bentuk D, E, dan F dikembangkan dari alat ukur kemampuan mental Otis Self-Administering Test, sedangkan form A dan B dikembangkan secara mandiri oleh Wonderlic (Kazmier & Browne, 1959; Hicks, Harrison, & Engle, 2015). Adapun untuk versi terbaru dari WPT dirilis pada Januari 2007 dengan nama Wonderlic Contemporary Cognitive Ability Test berisi pertanyaan yang lebih sesuai dengan abad ke-21 ini. Di Indonesia sendiri, WPT yang banyak digunakan adalah WPT format A.

WPT terdiri dari pertanyaan yang mewakili beberapa jenis tes, diantaranya: analogi, analisis figur geometris, aritmatika, direction following, disarranged sentences, judgement, logika, pencocokan peribahasa, kesamaan (similarities), dan definisi kata (Kazmier & Browne, 1959). Berdasarkan komponen penyusunnya diketahui bahwa WPT dikembangkan untuk mengukur kemampuan kognitif umum di bidang matematika, kosakata, dan penalaran yang selama ini telah digunakan secara luas sebagai tes kejuruan dan kecerdasan. WPT banyak digunakan untuk mengukur potensi pekerjaan, potensi pendidikan, dan potensi pelatihan seorang pelamar. Selain itu, durasi tes yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya sekitar dua hingga lima persen dari rata-rata kelompok menyelesaikan tes di batas waktu dua belas menit, menjadikan WPT sebagai tes kejuruan yang dapat dilangsungkan dengan singkat dan sederhana.

Setelah pertama kali ditemukan oleh Wonderlic lebih dari 70 tahun lalu, telah banyak penelitian yang dilakukan terhadap WPT. Pengembangan pada alat ukur ini pun sudah banyak dilakukan. Penelitian WPT terakhir kali dilakukan oleh T. Matthews dan Kerry Lassiter pada tahun 2007. Matthews dan Lassiter melaporkan bahwa WPT berkorelasi kuat positif secara signifikan dengan overall intellectual functioning tetapi tidak menunjukkan bukti validitas baik konvergen ataupun divergen terdahap dua domain kemampuan kognitif, yaitu: fluid dan crystallized intelligence. Ini mengindikasikan validitas yang kurang baik. Sedangkan untuk reliabilitasnya, berdasar pada studi yang sama diperoleh hasil bahwa pengujian reliabilitas Wonderlic menunjukkan skala reliablitas yang cukup baik, yaitu sebesar, 0.87.

Referensi

  1. Anastasi, A. & Urbina, S. (1997). Psychological Testing. 7th edition. USA: Macmillan Publishing Company.
  2. Kazmier. L. J.. & Browne. C. G. (1959). Comparability of Wonderlic test forms in industrial testing. Journal of Applied Psychology.
  3. Kumolohadi, R., & Suseno, M. N. (2012). Intelligenz Struktur Test Dan Standard Progressive Matrices?: Dari Konsep Inteligensi Yang Berbeda Menghasilkan Tingkat Inteligensi Yang Sama. Jurnal Inovasi Dan Kewirausahaan, 1(2).
  4. Nuraeni, N. (2012). Tes psikologi: Tes inteligensi dan tes bakat. Pustaka pelajar: Universitas Muhammadiyah (UM) Purwokerto Press.
  5. Rahmadani, A. S. (2019). Karakteristik Psikometri pada Standard Progressive Matrices (SPM). JPPP-Jurnal Penelitian Dan Pengukuran Psikologi, 8(02).
  6. Rohmah, U. (2011). Tes intelegensi dan pemanfaatannya dalam dunia pendidikan. Cendekia: Journal of Education and Society, 9, 125.
  7. Suwandi, B. (2015). Uji measurement invariance pada culture fair intelligence test menggunakan pendekatan multiple-group confirmatory factor analysis [UIN Syarif Hidayatullah Jakarta].