SEJARAH TES CFIT (Culture Fair Intelligence Test)
SEJARAH TES CFIT (Culture Fair Intelligence Test)

Test CFIT (Culture Fair Intelegency Test) diciptakan berdasarkan hasil penelitian Raymond Bernard Cattell. Raymond Bernard Cattell (20 Maret 1905 s/d 2 Februari 1998) adalah seorang psikolog Inggris dan Amerika, yang dikenal untuk eksplorasinya banyak wilayah di psikologi. Daerah ini meliputi: dimensi dasar kepribadian dan temperamen, berbagai kemampuan kognitif, dinamika dimensi motivasi dan emosi, dimensi klinis kepribadian, pola kelompok dan perilaku sosial, aplikasi penelitian kepribadian untuk psikoterapi dan teori pembelajaran, prediktor kreativitas dan prestasi. Cattell terkenal produktif, dengan usia selama 92 tahun telah menerbitkan banyak buku, artikel dan lebih dari 30 alat tes terstandar.

Sebagai psikolog, Cattell adalah telah mengkhususkan dirinya pada penelitian ilmiah yang ketat. Dia adalah seorang pendukung awal menggunakan metode analisis faktor, bukan apa yang ia sebut "berteori verbal" untuk menjelajahi dimensi dasar kepribadian, motivasi, dan kemampuan kognitif.

Meskipun Cattell paling dikenal untuk mengidentifikasi dimensi kepribadian, ia juga mempelajari dimensi dasar domain lainnya: kecerdasan, motivasi, dan minat kejuruan. Cattell berteori adanya kecerdasan fluid cristalized  untuk menjelaskan kemampuan kognitif manusia, yang kemudian menciptakan Culture Fair Intelligence Test (CFIT). Alasan pencitaan tes, karena Cattel melibat perbedaan kebudayaan dapat mempengaruhi performance test (hasil tes) sehingga dikembangkan tes yang adil budaya (culture fair) antara lain CFIT.

Culture Fair Intelligence Test dimaksudkan untuk mengukur kemampuan umum (General Ability) atau di sebut dengan G-Factor. Menurut teori kemampuan yang dikemukakan oleh Raymond B. Cattell, Culture Fair Intelligence Test adalah untuk mengukur Fluid Ability seseorang. Fluid Ability adalah kemampuan kognitif seseorang yang bersifat herediter. Kemampuan kognitif yang Fluid ini di dalam perkembangan individu selanjutnya mempengaruhi kemampuan kognitif lainnya yang disebut sebagai Cristalized Ability. Cristalized Ability seseorang merupakan kemampuan kognitif yang diperoleh dalam interaksi individu dengan lingkungan disekitarnya. Kemampuan kognitif seseorang tergantung dari sampai berapa jauh keadaan Fluid Ability-nya dan bagaiamana perkembangan Cristalized Ability.

Atas dasar pengertian ini, maka penggunaan Culture Fair Intelligence Test akan lebih lengkap apabila disertai pula dengan penggunaan tes-tes intelegensi umum lainnya yang mengukur Cristalized Ability, misalnya tes intelegensi umum 69 (TINTUM 69) atau Tintum bentuk A atau bentuk B.

Di Indonesia sendiri, CFIT diadopsi dan dikembangkan oleh Universitas Indonesia pada tahun 1975. Cattel merancang CFIT untuk mengurangi pengaruh budaya, perbedaan kecakapan verbal, dan perbedaan tingkat pendidikan. CFIT dirancang untuk bebas dari bias budaya dan cocok dipakai oleh beragam populasi, termasuk peserta tes yang tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris (Lynn dkk, dalam “Buku Petunjuk Penggunaan CFIT”, 2013), maka CFIT dapat digunakan di Indonesia tanpa adanya perubahan atau adaptasi terhadap aitem-aitemnya (“Buku Petunjuk Penggunaan CFIT”, 2013). Di Indonesia Tes CFIT yang berkembang adalah :

  • Tes G skala 2A (A7A)
  • Tes G skala 2B (A7B)
  • Tes G skala 3A
  • Tes G skala 3B

Post by Ardi almaqassary at 22 May 2020 10:09:24