logo PT Nirmala Satya Development
Perkembangan Teori Intelegensi

Perkembangan Teori Intelegensi yang perlu dipahami agar tepat penggunaan tools

Teori intelegensi sudah ada sejak awal abad 20, beserta perkembangan teori-teorinya. Beberapa ahli mencoba memberikan penjelasan teoretik mengenai Intelegensi ini. Beberapa di antara mereka adalah Lewis Terman, Charles Spearman, Sternberg, Louis L Thurstone, JP Guilford dan Howard Gardner. Teori-teori intelegensi dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Lewis Terman (1900)

Terman melanjutkan kerja yang dilakukan oleh Binet dalam melakukan pengukuran Intelegensi dengan mempertahankan konsep Binet mengenai usia mental. Menurut Terman, Intelegensi merupakan satu kemampuan tunggal yang disebut usia mental (mental age). Usia mental adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki rata- rata anak pada usia tertentu. Dia mendefinisikan Intelegensi sebagai kemampuan untuk berpikir abstrak (Winkel, 1996:139). Dia yakin bahwa Intelegensi merupakan faktor tunggal yang merupakan kemampuan individu dalam verbalisasi dan berpikir abstrak. Menurut Thornburg (1984: 179), Intelegensi merupakan monogenetik karena didasarkan pada faktor umum tunggal (general, disingkat g) yang diwarisi.

Di samping usia mental, dikenal pula konsep usia kronologis (chronological age). Usia kronologis adalah usia anak menurut perhitungan kalender. Ukuran Intelegensi ( intelligence quotient). merupakan rasio perbandingan antara usia men- tal dengan usia kronologis. Jika Intelegensi diberikan notasi dengan IQ, usia mental dengan MA dan usia kronologis dengan CA, maka dapat disajikan rumus perhitungannya berikut:

IQ = MA/CA

Dari rumus di atas diketahui bahwa pada anak yang mempunyai Intelegensi normal maka MA = CA atau MA sama dengan MA rata-rata anak seusianya. Anak yang mempunyai MA > CA mempunyai Intelegensi di atas rata-rata, dan anak yang mempunyai MA < CA>

2. Charles Spearman (1927)

Menurut Spearman, Intelegensi bukanlah kemampuan tunggal, melainkan terdiri dari dua faktor, sehingga teorinya dikenal sebagai teori Intelegensi dwifaktor atau bifaktor. Kecerdasan dapat dibagi menjadi dua yaitu kecerdasan umum (general ability) dan kecerdasan khusus (specific ability), sehingga Intelegensi mempunyai dua faktor. Dua faktor itu adalah faktor yang bersifat umum (general factor, disingkat g) dan yang bersifat khusus (specific factor, disingkat s). Faktor umum mendasari semua tingkah laku, sedang faktor khusus hanya mendasari tingkah laku tertentu. Menurut Suryabrata (2002:128), faktor umum bergantung kepada keturunan dan faktor khusus bergantung kepada pengalaman (lingkungan, pendidikan).

Setiap masalah dipecahkan menggunakan kombinasi antara Intelegensi umum dan spesifik. Menurut Winkel (1996:139), Intelegensi adalah hasil perpaduan antara faktor umum dan sejumlah faktor khusus. Perpaduan faktor g dan s bersifat unik untuk setiap orang, sehingga ada perbedaan individu satu sama lain. Menurut Spearman (Atkinson, Atkinson, Smith dan Bem, t.th:174), semua individu memiliki faktor Intelegensi umum (g) dalam jumlah yang bervariasi. Seseorang dapat dikatakan secara umum cerdas atau bodoh tergantung pada jumlah g yang ia miliki. Faktor g merupakan determinan utama kemampuan mengerjakan soal tes Intelegensi.

3. Sternberg (1931)

Menurut Sternberg Intelegensi mempunyai tiga bagian sehingga teorinya dikenal dengan teori Intelegensi triarkhis. Tiga bagian Intelegensi itu adalah konseptual, kreatif dan kontekstual (Good dan Brophy, 1990: 597). Pertama, konseptual adalah komponen pemrosesan informasi yang digunakan dalam Intelegensi. Menurut Winkel (1996 : 140), bagian konseptual mempunyai tiga fungsi yaitu komponen pengatur dan pengontrol (metacomponent atau metacognition), komponen pelaksanaan (performance) dan komponen untuk memperoleh informasi baru (knowledge acquisi- tion). Kedua, kreatif merupakan kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan baru secara efektif dan mencapai taraf kemahiran dalam berpikir sehingga mudah berhasil mengatasi segala permasalahan yang muncul. Ketiga, kontekstual adalah kemampuan untuk menempat- kan diri dalam lingkungan yang memungkinkan akan berhasil, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengadakan perubahan terhadap lingkungan bila perlu, misalnya memilih kasus, menyesuaikan dengan lingkungan kerja baru dan kelincahan pergaulan sosial.

4. Louis L Thurstone (1938)

Thurstone memandang Intelegensi bersifat multifaktor. Faktor- faktor yang membentuk Intelegensi adalah faktor umum (common factors, disingkat c) dan faktor khusus (specific factors). Faktor umum terdiri dari tujuh faktor yang membentuk perilaku tertentu yang bersifat umum. Faktor khusus adalah faktor- faktor yang mendasari perilaku yang bersifat khusus. Menurut Suryabrata (2002:129), tingkah laku dibentuk oleh dua faktor yaitu faktor umum (c) dan faktor khusus (s). Faktor c sebanyak tujuh macam, sedang faktor s sebanyak tingkah laku khusus yang dilakukan oleh manusia yang bersangkutan.

Menurut Thurstone, tidak ada faktor g seperti dalam teori Spearman. Kemampuan umum bukanlah faktor g melainkan kombinasi faktor- faktor c. Faktor c adalah kemampuan mental utama (primary mental abilities) yang merupakan kombinasi dari tujuh faktor umum. Oleh karenanya teori Thurstone kadang dikenal sebagai teori kemampuan mental utama (primary mental abili- ties theory). Menurut Anastasi dan Urbina (1997 : 312 – 313) faktor meliputi : (1) penalaran verbal (verbal comphrehension, disingkat V), kelacaran kata (word fluency, disingkat W), angka (number, disingkat N), ruang (space, disingkat S), memori asosiatif (associative memory, disingkat M), kecepatan perseptual (perceptual speed, disingkat P), dan induksi atau penalaran umum (general rea- soning, disingkat R).

5. JP Guilford (1967)

Menurut Guilford, faktor yang membentuk Intelegensi bukan hanya satu faktor (Terman), dua faktor (Spearman), tiga faktor (Sternberg) atau tujuh faktor (Thurstone), melainkan 120 faktor. Berdasarkan analisis faktor, Guilford mengusulkan model berbentuk kubus yang disebut model struktur intelektual dengan 120 faktor.

Sejumlah 120 faktor itu merupakan kombinasi dari tiga dimensi. Ketiga dimensi Intelegensi itu adalah dimensi operasi/proses, dimensi isi/materi/ konten, dan dimensi hasil/produk (Guilford, 1971: 61 – 62). Operasi mempunyai lima faktor yaitu kognisi, memori, berpikir konvergen, berpikir divergen dan evaluasi. Konten mempunyai empat faktor yaitu figural, simbolik, semantik dan perilaku. Sedang produk mempunyai enam faktor yaitu unit, kelas, hubungan, sistem, transformasi dan implikasi. Secara keseluruhan Intelegensi mempunyai 5 x 4 x 6 = 120 faktor.

6. Howard Gardner (1983)

Menurut Gardner, Intelegensi bukanlah satu kemampuan sebagaimana disampaikan oleh Terman, Spearman, Sternberg, Thurstone, dan Guilford. Intelegensi merupakan kemampuan ganda (multiple intelligence). Kemampuan ganda dalam konsep Intelegensi menurut Gardner, terdiri dari sembilan kemampuan (Suparno, 2004: 19). Kesembilan kemampuan itu adalah (1) linguistik, (2) matematis – logis, (3) ruang, (4) kinestetik – badani, (5) musikal, ( 6) interpersonal, (7) intrapersonal, (8) lingkungan / naturalis, dan (9) eksistensial.

Masing-masing kemampuan dalam Intelegensi menurut Gardner bersifat independen. Gardner (Good dan Brophy, 1990: 595) menyatakan bahwa Intelegensi bukanlah tunggal tetapi jamak, yang masing-masing penting untuk bidangnya dan independen satu sama lain. Tiap-tiap kemampuan bersifat independen. Menurut Atkinson, Atkinson, Smith dan Bem (2003: 181), tiap Intelegensi merupakan “modul terbungkus” di dalam otak yang bekerja menurut aturan dan prosedurnya sendiri. Cedera otak tertentu dapat mengganggu salah satu jenis Intelegensi dan tidak memiliki pengaruh pada Intelegensi lain. Independensi kemampuan-kemampuan juga dijelaskan oleh Winkel (1996:140). Menurutnya, independensi kemampuan didasarkan adanya bukti: (1) kerusakan otak pada bagian tertentu tidak mengakibatkan gangguan pada bagian lain, (2) orang sering menyolok pada suatu Intelegensi tapi tidak pada Intelegensi yang lain.

Artikel berhubungan: